Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati

Ditengah kondisi kehidupan manusia yang terus berevolusi, masa berganti masa, zaman pun berganti seiring waktu menjadi suatu peradaban baru, makhluk yang hidup dimuka bumi ini tidaklah luput dari kematian.Oleh karena itu, khsususnya manusia mutlak pasti akan kembali ke sebuah kampung yang namanya adalah kampung akhirat. Lihatlah satu fenomena nyata berapa repotnya orang yang ingin pulang ke kampung menjelang hari raya tiba, suatu suasana yang kiraya sangat hiruk pikuk, mereka rela berdesak-desakan, rela bersusah payah hanya untuk kembali ke kampung halaman mereka tuk bertemu dengan keluarga, sanak famili, handai tolang. Itu saja mereka sudah mempersiapkan bekal di dalam perjalanan. Apalagi bila mereka tidak membawa bekal untuk perjalanan, kiranya pasti selain kesusahan, kesengsaraan lah yang akan dirasakan. Oleh karena itu, bagaimana bila kita nanti PULANG KEKAMPUNG AKHIRAT, PERSIAPAN APA YANG TELAH KITA SIAPKAN???

Beberapa hal yang tentunya baik tuk kita pikirkan sebagai bekal tuk kembali ke KAMPUNG AKHIRAT.

Semoga cerita ini, bisa digunakan sebagai bahan renungan untuk Anda, Teman-temanku, Sahabatku, yang mungkin terlalu sibuk bekerja…
Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan merenungkan pesan ini…

Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. Kita seolah
lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tahu kapan kedatangannya.
Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan. Tahukah kita kapan
kematian akan menjemput kita???

Berikanlah waktu anda dan bacalah sampai habis, semoga dapat menjadikan
hikmah buat kita semua dan sadar, bahwa kita akan mati dan tinggal
menunggu waktunya,

PENDAHULUAN

1. Demi masa.
2 Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yg beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran

” Qullu Nafsin dza ikhatul Maut “

“Setiap yang bernyawa pasti akan mendapatkan Maut”

Roynan adalah seorang pemuda yang lahir dilingkungan keluarga yang cukup baik. Dia memiliki seorang ayah yang disibukkan dengan rutinitas kegiatan keagamaan atau lebih dikenal dengan nama Ustad ataupun kiai, ibunya pun seorang ustajah yang sering mengisi di majelis- majelis taklim. Tatkala masih di bangku sekolah, ia selalu mendengar doa ibunya setiap saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahnya, beliau selalu dalam shalatnya yang panjang. Walaupun agak berat, karena didikan kedua orang tuanya secara perlahan roynan pun mengikuti anjuran kedua orang tuanya untuk bisa memaksimalkan pemahaman agamanya. Dia termasuk anak yang cukup baik kala itu, ibadahnya pun sangat baik bila dibandingkan teman-teman seusianya saat itu. Royan tumbuh sebagai pemuda yang matang.

Sampai akhirnya dia harus meneruskan pendidikan militer ke suatu daerah sehingga jauh dari orang tua. Dalam masa pendidikan ada yang sangat berubah dari Roynan, yang tadinya dia sholat di awal waktu dan berjamaah, dikarenakan kesibukannya ia lebih sering sholat di akhir waktu. Amalan-amalan yang dulu sering ia praktekkan bersama kedua orang tuanya, bangun sholat malam, sholat duha dipagi hari, puasa sunah sudah semakin jarang ia kerjakan. Ia pun sebenarnya sadar kalau dirinya semakin jauh dari Allah.

Setelah tamat dari pendidikan tersebut, Roynan ditugaskan di kota yang jauh dari kotanya. Perkenalannya dengan teman-teman sekerja membuatnya agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.

Tidak begitu jauh seperti ketika mengenyam pendidikan, Disana ia lebih parah lagi sholat pun sudah mulai ia tinggalkan, kadang sholat kadang tidak, apalagi amalan-amalan sunnah sudah tidak pernah sekali dia kerjakan, bahkan bacaan Al-Qur’an yang pada saat pendidikan masih sering dia baca, kini tidak pernah lagi. Ia benar-benar hidup
sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu sempat ia nikmati.

Lingkungan ditempat tugasnya yang baru membuat Roynan berubah total, hal ini dikarenakan rekan-rekannya dikantor pun berbuat demikian, mereka begitu asik dengan kerjaan mereka. Memang betul tugas yang di emban Roynan sangatlah mengasikkan, selain mendapatkan pendapatan yang besar, ia hanya ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol, menjaga keamanan jalan disana, serta membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pekerjaan baru itu sungguh menyenangkan baginya. Ia lakukan tugas-tugasnya dengan
semangat dan dedikasi tinggi. Tetapi, ia merasa hidupnya kering kerontang, tidak punya pondasi bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Kadang disela-sela malam, ia merenung dan sering melamun sendirian …. banyak waktu luang … pengetahuannya
terbatas.

Roynan mulai jenuh … tak ada yang menuntunnya di bidang agama. Ia merasa sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain. Ia merasakan kebosanaan yang tak terhingga dengan rutinitas yang ia lakukan. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah ia lupakan.

Ketika itu, ia dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan..Mereka asyik ngobrol … tiba-tiba Mereka dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Mereka mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Mereka segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.
Kejadian itu sangatlah tragis. Mereka lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera mereka keluarkan dari mobil lalu Mereka bujurkan di tanah. Mereka cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas
dengan amat mengerikan.

Mereka kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temannya menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah

“Laailaaha Illallaah …. Laailaaha Illallaah ..” perintah temannya.
Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu.
Keadaan itu membuat Roynan merinding. Temannya tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat, ia kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.

Roynan diam membisu. Roynan tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupnya, Roynan belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti itu. Namun temannya terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat.

Tetapi …. keduanya tetap terus saja melantunkan lagu. Tak ada gunanya … Suara lagunya terdengar semakin melemah …. Lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak …. keduanya telah meninggal dunia. Sampai akhirnya mereka segera membawa jenazah ke dalam mobil. Temannya menunduk, ia tak berbicara sepatah pun.

Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening dan sepi. Kesunyian pecah ketika Temannya mulai bicara..Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk).

Ia berkata “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk.. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”.

Ia bercerita panjang lebar pada Roynan tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.

Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan Mereka tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa Mereka sedang membawa mayat. Tiba-tiba Roynan menjadi TAKUT MATI. Peristiwa
ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagi Roynan. Hari itu, alhamdulillah Roynan shalat dengan khusyu’ sekali.

Tetapi setelah beberapa waktu kedepan, perlahan-lahan Roynan mulai melupakan peristiwa itu. Roynan kembali pada kebiasaan semula yang ia kerjakan selama di tempat kerjanya … Roynan seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak dikenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi sejak saat itu, Roynan memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Roynan tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala.

Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah didengarnya dari dua
orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang sangat menakjubkan dan sangat memprihatinkan tentunya.

Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu …. sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mata Roynan. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota . Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.

Roynan dengan seorang kawannya, dan bukan orang yang menemaninya pada peristiwa pertama yakni enam bulan sebelumnya, mereka cepat-cepat menuju tempat kejadian.

Korban tersebut Mereka bawa dengan mobil dan segera pula Mereka menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan. Korban tersebut masihlah sangat muda belia, wajahnya begitu bersih. Ketika mengangkatnya ke mobil, Mereka berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika
Mereka membujurkannya di dalam mobil, Mereka baru bisa membedakan suara yang
keluar dari mulutnya.

Subhanallah, korban tersebut melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an … dengan suara amat lemah. Dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kondisinya sangat memprihatinkan, darah segar mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.

Selama ini, Roynan tak pernah mendengar bacaan Al-Qur’an seindah itu, apalagi orang yang sedang mengalami SAKARATUL MAUT . Dalam batin Roynan bergumam sendirian “Roynan akan menuntunnya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh Temannya terdahulu … apalagi Roynan sudah punya pengalaman dari kejadian sebelumnya beberapa bulan lau. Roynan meyakinkan dirinya sendiri. Roynan dan kawannya seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu.

Sekonyong-konyong sekujur tubuh Roynan bergetar menjalar dan menyelusup ke setiap rongga tubuhnya, sehingga tanpa ia sadari matanya leleh dengan airmata. Namun tiba-tiba, suara itu terhenti. Roynanpun terhentak dan menoleh ke belakang. Ia sangat kaget, ia menyaksikan korban tersebut mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepala korban terkulai, Roynan melompat ke belakang dan langsung memegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa.
Dia telah meninggal. Roynan lalu memandanginya lekat-lekat, air mata Roynan semakin
menetes, dan semaksimal mungkin berusaha menyembunyikan tangisnya, takut diketahui oleh kawannya. Kemudian secara terisak-isak ia pun berkata kepada kawannya kalau pemuda itu telah meninggal. Kawannya tak
kuasa menahan tangis yang kemudian mereka berdua pun larut dalam tangis dan kesedihan yang luar biasa. Roynan terus menangis air matanya deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.

Sampai di rumah sakit, Kepada orang-orang di sana, Mereka mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan.

Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah Mereka, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, ketika mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. . Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua ingin ikut men- Sholatinya.

Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Mereka ikut
mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Sungguh luar biasa kebiasaaan yang dilakukan almarhum.

Memang, ketika diperiksa mobilnya almarhum penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Di dalam mobilnya juga terdapat buku-buku agama dan kaset – pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil. Mendengar cerita itu, Roynan serasa disamber petir, kembali ia teringat pesan-pesan yang sering dilantunkan oleh kedua orang tuannya saat ia kecil, ayahnya yang tidak bosan-bosan memberikan pemahaman kepadanya kalau nanti dewasa ia agar bisa senantiasa berbuat baik kepada sesama manusia, supaya senantiasa menjaga tali persaudaraan (silaturahim) dengan keluarga, senantiasa menyayangi fakir dan miskin, menyayangi yatim piatu, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Namun itu semua hanya sebatas angina lewat, ia seakan lupa dengan berbagai nasihat tersebut saat dewasa.

Sampai akhirnya setelah proses pengurusan di rumah sakit selesai dan keluarga dari korban pun telah berdatangan, ada yang mengurus administrasi agar jenazah korban dibawa pulang dan diurus pemakamannya, Roynan beserta temannya pum pamit undur diri dari rumah sakit. di dalam perjalanan pulang mereka hening dan tidak bergumam, masing-masing masih terpana menyaksikan kejadian yang sangat luar biasa yang baru saja berlangsung. Roynan hanya berkata kepada temannya kalau bisa kita bisa mengikuti apa yang dilakukan pemuda itu yang kemudian kawannya pun cuma menggangguk mengiyakan. Yang kemudian mereka pun berpisah tuk pulang ke tempatnya masing-masing. Roynan langsung istirahat, sampai di tengah malam dia pun terbangun. Pada kesempatan kali ini, dia langsung mengambil air wudhu berencana untuk sholat, tidak seperti biasanya dia enggan tuk bangun malam. Di sholatnya dia begitu khusyu. Sampai tidak ia sadari matanya sudah leleh dengan air mata. Dia berdoa dan bermunajat kepada Allah, agar Allah senantiasa memberikan petunjuk dan hidayah kepadanya untuk senantiasa bisa ISTIQOMAH menjalankan semua perintah-perintah Allah dan Menjauhi segala larangan- larangan Allah. Dia pun bertekad untuk kembali menjalankan segala nasihat-nasihat yang dulu pernah disampaikan oleh kedua orang tuanya ketika ia kecil. Kebiasaan-kebiasaan baik yang selama ini ia tinggalkan pun kembali ia jalankan dan amalkan kembali. Tidak hanya ibadah-ibadah wajib, ia secara maksimal mengerjakan ibadah-ibadah sunnah. Ia banyak meluangkan waktu untuk membaca dan mengkaji alquran, ia lebih senang mendengar lagu-lagu nasyid dan sholawat nabi, bila ada waktu libur ia sering mengunjungi panti-panti jompo, fakir miskin dan ia juga sering menyisihkan sebagian pendapatannya untuk dibagikan kepada orang yang membutuhkan. Alhamdulillah Roynan kembali menjadi pemuda dewasa yang berusaha secara maksimal untuk bisa istiqomah menjalankan semua perintah-perintah Allah dan Menjauhi segala larangan- larangan Allah.

Saudara-saudara sekalian Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa, hanya ada satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan pertaubatan. Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan amal-amal yang nyata :

“memperbaiki diri dan mengajak orang lain”.

Allah SWT berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. ” (QS. Al-Imran:185)

Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam sabdanya,

“Barang siapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.”

Saudaraku, siapa yang tahu kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita menemui tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah SWT.

Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian dalam waktu-waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan untuk menghadapinya.

Note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat.

Begitulah hendaknya engkau nasehati dirimu setiap hari karena engkau
tidak menyangka mati itu dekat kepadamu bahkan engkau mengira engkau
mungkin hidup lima puluh tahun lagi, kemudian engkau menyuruh dirimu
berbuat taat, sudah pasti dirimu tidak akan patuh kepadamu dan pasti ia
akan menolak dan merasa berat untuk mengerjakan ketaatan.

Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri, Teman2 dan saudara-saudaraku
seiman pada umumnya.

Orang Cerdas Adalah Orang Yang Mengingat Akan Kematian, Bila kita akan ‘berangkat” dari alam ini, ia ibarat penerbangan ke sebuah negara. Dimana informasi tentangnya tidak terdapat dalam brosur penerbangan, tetapi melalui Al-Qur’an dan Al-Hadist. Di mana penerbangan bukannya dengan Garuda Airlines, Singapore Airlines, atau US Airlines, tetapi Al-Jenazah Airlines.

Di mana bekal kita bukan lagi tas seberat 23Kg, tetapi amalan yang tak lebih dan tak kurang. Di mana bajunya bukan lagi Pierre Cardin, atau setaraf dengannya, akan tetapi kain kafan putih. Di mana pewanginya bukan Channel atau Polo, tetapi air biasa yang suci. Di mana passport kita bukan Indonesia , British atau American, tetapi Al-Islam.
Di mana visa kita bukan lagi sekedar 6 bulan, tetapi ‘Laailaahaillallah’ Di mana pelayannya bukan pramugari jelita, tetapi Izrail dan lain-lain. Di mana servisnya bukan lagi kelas business atau ekonomi, tetapi sekedar kain yang diwangikan.
Di mana tujuan mendarat bukannya Bandara Cengkareng, Heathrow Airport atau Jeddah International, tetapi tanah pekuburan.

Di mana ruang menunggunya bukan lagi ruangan ber AC dan permadani, tetapi ruang 2×1 meter, gelap gulita. Di mana pegawai imigrasi adalah Munkar dan Nakir, mereka hanya memeriksa apakah kita layak ke tujuan yang diidamkan. Di mana tidak perlu satpam dan alat detector. Di mana lapangan terbang transitnya adalah Al Barzah. Di mana tujuan terakhir apakah Syurga yang mengalir sungai di bawahnya atau Neraka Jahannam. Penerbangan ini tidak akan dibajak atau dibom, karena itu tak perlu bimbang.
Sajian tidak akan disediakan, oleh karena itu tidak perlu merisaukan masalah alergi atau halal haram makanan. Jangan risaukan cancel pembatalan, penerbangan ini senantiasa tepat waktunya, ia berangkat dan tiba tepat pada masanya. Jangan pikirkan tentang hiburan dalam penerbangan, karena anda telah hilang selera bersuka ria. Jangan bimbang tentang pembelian tiket, karena tiket telah siap di booking sejak ruh anda ditiupkan di dalam rahim ibu.

YA!BERITA BAIK!! Jangan bimbangkan siapa yang duduk di sebelah anda.
Anda adalah satu-satunya penumpang penerbangan ini.
Oleh karena itu bergembiralah selagi bisa! Dan sekiranya anda bisa!
Hanya ingat! Penerbangan ini datang tanpa ‘Pemberitahuan’ .
Cuma perlu ingat!! Nama anda telah tertulis dalam tiket untuk
Penerbangan.
….
Saat penerbangan anda berangkat… tanpa doa Bismillahi Tawakkaltu
‘Alallah, atau ungkapan selamat jalan. Tetapi Inalillahi Wa Inna ilaihi Rajiuun….
Anda berangkat pulang ke Rahmatullah. Mati.

ADAKAH KITA TELAH SIAP UNTUK BERANGKAT?
‘Orang yang cerdas adalah orang yang mengingat kematian. Karena dengan
kecerdasannya dia akan mempersiapkan segala perbekalan untuk
menghadapinya. ‘

ASTAGHFIRULLAH, semoga ALLAH SWT mengampuni kita beserta keluarga…

Amiin

WALLAHU A’LAM

Catatan:
Penerbangan ini berlaku untuk segala umur… tanpa kecuali, maka perbekalan lebih baik dipersiapkan sejak dini….. sangat tidak bijak dan tidak cerdas bagi yang menunda-nunda mempersiapkan perbekalannya.

SUARA YANG DIDENGAR MAYAT
Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga hal yaitu:
1. Keluarga
2. Hartanya
3. Amalnya

Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal Bersamanya yaitu;
1. Keluarga dan Hartanya Akan Kembali
2. Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya..

Maka ketika Roh Meninggalkan Jasad…Terdengarlah Suara Dari Langit
Memekik, “Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia, Atau Dunia Yang Meninggalkanmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan, Atau Kekayaan Yang Telah
Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menguburmu.”
Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan.. . ..Terdengar Dari Langit
Suara Memekik, “Wahai Fulan Anak Si Fulan…
Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat, Mengapa Kini Terkulai Lemah
Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih, Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara
Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar, Mengapa Kini Tuli Dari Seribu
Bahasa
Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia, Mengapa Kini Raib Tak
Bersuara”

Ketika Mayat Siap Dikafan… Suara Dari Langit Terdengar Memekik,”Wahai
Fulan Anak Si Fulan
Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha
Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah Wahai Fulan Anak Si
Fulan….
Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan Nun Jauh Tanpa Bekal
Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak Akan Kembali Selamanya
Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan.”

Ketika Mayat Diusung. … Terdengar Dari Langit Suara Memekik, “Wahai
Fulan Anak Si Fulan..
Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan
Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat
Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat.”

Ketika Mayat Siap Dishalatkan. …Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
“Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat
Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik
Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk.”

Ketika Mayat Dibaringkan Di Liang Lahat….terdengar Suara Memekik Dari
Langit,”Wahai Fulan Anak Si Fulan….
Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia Untuk
Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini Wahai Fulan Anak Si Fulan….
Dahulu Kau Tertawa, Kini Dalam Perutku Kau Menangis
Dahulu Kau Bergembira,Kini Dalam Perutku Kau Berduka
Dahulu Kau Bertutur Kata, Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa.”

Ketika Semua Manusia Meninggalkannya Sendirian… . .Allah Berkata
Kepadanya, “Wahai Hamba-Ku…. .
Kini Kau Tinggal Seorang Diri
Tiada Teman Dan Tiada Kerabat
Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..
Mereka Pergi Meninggalkanmu. . Seorang Diri
Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintahku
Hari Ini,….
Akan Kutunjukan Kepadamu
Kasih Sayang-Ku
Yang Akan Takjub Seisi Alam
Roynan Akan Menyayangimu
Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya”.

Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman, “Wahai Jiwa Yang Tenang
Kembalilah Kepada Tuhanmu
Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya
Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba- Ku
Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku”

Rasulullah SAW. menganjurkan kita untuk senantiasa mengingat mati (maut)
dan dalam sebuah hadithnya yang lain, belau bersabda “wakafa bi almauti wa’idha”, artinya, cukuplah mati itu akan menjadi pelajaran bagimu!

semoga kita termasuk dalam orang-orang yang khusnul
khotimah…. amien….Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amiin…..

Jazakumullah khairan katsiran

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Category: Bebas
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>