Mencari jati diri, increase your knowledge and skill for your self

Ketika itu, tepatnya minggu pertama masuk SMP, suatu pagi Nandi dibangunkan oleh Ibunya karena ingin pergi kepasar.
“Ndi, Nandi, Ndi bangun, mama mau kepasar” Ucap ibunya sambil mengetuk pintu kamar. Nandi keluar dari kamar, kemudian menuju ruang tamu hendak mengunci pintu.
“Kamu kunci pintunya Ndi. Jangan tidur lagi, sebentar lagi subuh”. Pesan ibunya seraya keluar menghampiri mobil yang telah menunggu agak lama.
Dengan rasa malas, ia menuju kamar, kemudian merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Betapa kagetnya ia saat jam weker dikamarnya berbunyi dan melihat jam sudah pukul 05.45 menit, padahal ia belum mandi maupun sholat.
“Wah kesiangan ni gue, blon sholat lagi”, gumamnya dalam hati.
Dengan tergesa-gesa ia menuju kamar mandi. Setelah itu, ia melakukan sholat dan bergegas merapikan buku-buku pelajaran.

Jarak sekolahan yang cukup jauh membuat perasaannya cemas, takut, dan khawatir kalau dia pasti terlambat. Perasaan takut itu terasa hilang, saat ia melihat masih banyak temannya, termasuk Arfan teman sekelasnya.yang masih menunggu angkot. Ia menghampiri Arfan seraya berkata:
“Fan, kenapa lo belon berangkat?”.
“Supirnye pada rese Ndi, kaga mau ngangkut anak sekolah”. Jawab Arfan padanya.
Tak lama kemudian terdengar celoteh seorang anak dari kejauhan. “woii kita nebeng aja yo. Kalo ngga, nanti kita terlambat”.
Beberapa anak sepakat atas usulan tersebut termasuk Arfan. Akhirnya ada juga sebuah truk yang bersedia memberikan tumpangan setelah banyak truk yang diberhentikan. Beberapa teman Nandi sudah berada di atas truk, tinggal dia saja yang belum, ia masih ragu apakah ikut nebeng atau tidak. Ditengah keraguannya, tiba-tiba
“Ndi, ayo buruan entar elo terlambat!” teriak Arfan padanya. Dengan gemetar dia memberanikan diri memanjat truk tersebut. Mereka tetap terlambat datang ke sekolah Dengan sedikit alasan dan adanya toleransi, mereka diperkenankan masuk ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran.
Karena masih awal-awal sekolah, banyak guru yang belum menyampaikan pelajarannya secara penuh. Sehingga hampir semua kelas dapat pulang dengan cepat. Termasuk kelasnya Nandi. Seperti biasa Nandi maupun anak-anak yang lainnya senantiasa berkumpul terlebih dahulu sebelum pulang. Maksudnya agar mereka dapat pulang bersama-sama.
Suatu hari setelah pulang sekolah, Nandi diajak oleh Arfan beserta anak-anak yang lainnya untuk nebeng. Awalnya ia menolak. Namun setelah berpikir dan merasa tidak ada masalah dengan nebeng. Ia pun melakukannnya, pikirnya ia dapat ngirit uang karena tidak mengeluarkan ongkos mobil. Pernah suatu ketika disaat nebeng ia ditawari sebatang rokok oleh seorang temannya yang bernama Icank.
“Ndi, ini rokok buat lo, ayo isep”
“Ngga ah, gue ngga ngerokok”, jawabnya.
“Coba aja, enak lagi Ndi, Icank berusaha meyakinkan.
“Ayolah Ndi, masa ngerokok aja ngga berani, kaya cewe aja lo”. Sindir Icank padanya.
“Sini buat gue aja Cank”, celetuk Arfan sambil mendekati Icank untuk meminta rokoknya.Ia sempat kaget melihat Arfan. Tak pernah terbayang olehnya kalau Arfan yang dikenalnya pendiam sejak SD, berani juga menyalakan rokok dan menghisapnya.
“Enak Ndi rokoknya, ngeplay ni gue. Nih join ama gue” ucap Arfan sambil menyodorkan rokok tersebut kepadanya.
“Yang bener lo Fan, rasanya kaya apa Fan”, Tanyanya keheranan serasa ingin mencoba. Awalnya ia masih ragu-ragu dan bimbang. Namun, Arfan dan Icank berusaha meyakinkan dan akhirnya ia memberanikan diri dan mengambil rokok tersebut.
“Tarik Ndi, seperti ini ni” Icank berusaha mengajaSanya.
Dia mengikuti apa yang dicontohkan oleh Icank, tapi ketika menghisap rokok tersebut ia pun terbatuk. Beberapa temannya yang ada di atas truk tertawa melihatnya. Ia merasa sedikit kesal, hingga terbesit didalam benaknya bahwa suatu saat ia akan membuktikan bahwa ia juga bisa melakukan hal tersebut.
Hingga suatu hari, disaat nebeng ia mengeluarkan setengah bungkus rokok seraya berkata.
“Wooi siapa yang belum punya rokok”, teriak Nandi kepada teman-temannya sambil menawarkan beberapa batang rokok yang ia miliki.
“Tumben lo Ndi beli rokok, setengah bungkus lagi” ledek Icank padanya.
“Iseng ni, lagi ada duit” ujarnya pada Icank dengan sedikit sombong. Ia merasa bangga karena keinginannya telah terlaksana yaitu untuk membuktikan bahwa ia juga bisa seperti mereka.
Sekitar dua bulan sebelum Ebtanas, pak Wawan pernah menyarankan kepada semua siswa untuk dapat mengikuti kursus Bahasa Inggris yang diadakan ditempatnya. Kebetulan lembaga kursus tersebut letaknya tidak jauh dari sekolah, yang mengajar pun pak Wawan sendiri. Nandi sendiri berminat mengikuti kursus tersebut dikerenakan ada seorang cewek yang bernama Susan. Sudah lama ia bermaksud mendekati Susan. Bahkan ada seorang temannya dekatnya Susan yang juga menjadi teman dekatnya Nandi yang bernama Sinta. Sinta sudah dikenal Nandi sejak lama dan ia sedang bercerita pada Sinta kalau ia mempunyai perasaan simpati terhadap Susan dan ingin mengenalnya lebih dekat.
Suatu hari, suasana di sekeliling sekolahanku menjadi gelap, akibat awan hitam yang kian menebal. Kendati demikian, hujan belum juga turun. Hari itu, adalah hari dimana Nandi harus les Bahasa Inggris. Namun, karena hari itu cuaca mendung ia berencana untuk tidak les. Setelah pelajaran usai, ia bergegas menuju terminal, tidak menuju tempat tongkrongan anak-anak biasa nebeng. Sudah banyak temannya yang tidak lagi nebeng, semenjak Icank jatuh dari Truk. Begitu pula Nandi, ia lebih senang naik angkot semenjak ikut kursus. Ketika sampai di terminal, ia melihat Sinta dan Susan sudah berada disebrang jalan sedang menunggu mobil.
“Wah kayanya mereka kursus. Kalo gitu gue juga harus kursus nih” gumamnya dalam hati. Ia segera berlari menuju mereka seraya berkata.
“Kalian mo kursus ya?” tanyanya pada mereka.
“Iya kita mo kursus”, jawab Sinta padanya. Kemudian mereka menaiki mobil yang telah ada dihadapan mereka. Nandi tampak gelisah ketika berada didalam mobil seakan-akan sesuatu masalah yang ia hadapi. Ditengah lamunannya tiba-tiba,
“Ndi, lo mo turun ga?” hentak Sinta seraya menepuk pundaknya.
Saat turun dari mobil, tiba-tiba hujan turun. Mereka berlari menuju sebuah warung untuk berteduh. Tak lama kemudian tampak dari kejauhan seorang wanita setengah baya dengan membawa satu buah payung. Nandi seolah-olah mengenali wanita tersebut. ia segera memanggilnya. Ternyata wanita itu adalah pembantunya pak Wawan
“Mba puji!, mo kemana?”.Dia pun mendekati mereka seraya berkata
“Mba disuruh jemput Seli putrinya pak Wawan “.
“Mba, anterin kita donk, udah terlambat ni, rayu Sinta seraya mendekati mba Puji.
“Ya baiklah” jawab mba Puji sambil memberikan satu payung tersebut kepada Sinta. Sinta kemudian memberikan payung itu pada Nandi seraya berkata:
“San, kamu sama Nandi aja yah, biar aku sama mbanya.
“Ngga ah Sin” jawab Susan dengan raut wajah memerah. Namun akibat desakan Sinta, akhirnya Susan mau juga. Nandi sangat senang terhadap sikap Sinta yang seolah-olah memahaminya.
“Akhirnya kesempatan ini datang juga” gumamnya dalam hati.
“San kok kamu diam aja, kenapa, marah ya padaku”, Tanya Nandi dengan pelan. Namun, Susan diam saja, hanya sebatas menggelengkan kepala.
“San, boleh ngga gue terus terang ma elo. Sebenarnya udah lama gue suka ama elo. Lo mau ga jadi bokin gue?” Ungkap Nandi ditengah derasnya hujan. Ia semakin berdebar-debar, jantungnya serasa inging copot, karena Susan tidak berbicara sepatah katapun.
“Gimana San, tanyanya sekali lagi.
“Ngga tau”, jawab Susan dengan nada pelan.
Susan pun berlari kecil ketika telah sampai di pekarangan tempat kursus, kemudian masuk keruangan kursus. Awalnya Nandi ingin langsung pulang. Namun ia mengurungkan niatnya karena pak Wawan telah melihatnya. Seusai pelajaran les, ia langsung pamit kepada teman-temannya, kemudian langsung pulang. Malam harinya ia menelepon Susan dan menanyakan hal yang sama. Namun Susan menjawab pertanyaan Nandi dengan tegas bahwa ia mau konsentrasi belajar dulu karena sebentar lagi Ebatanas.
Semenjak kejadian itu, Nandi lebih senang menyendiri, seakan-akan ia tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Ia menjadi agak malas pergi kesekolah dan pergi kursus. Bahkan ia sampai mendapatkan surat teguran dan ancaman tidak akan diperkenankan mengikuti ujian Ebtanas. Ayahnya sangat marah setelah mengetahui bahwa ia mendapat surat teguran dari sekolah dikarenakan tidak masuk sekolah selama 7 hari berturut-turut tanpa keterangan. Puncak kemarahan ayahnya yaitu melarang Nandi untuk keluar Malam, ia mengancam Nandi tidak akan memberikan uang jajan jika ia masih tetap keluar malam, karena hampir setiap malam Nandi selalu saja keluar rumah.
Obsesinya yang begitu tinggi untuk mendapatkan Susan dan larangan Ayahnya untuk keluar malam membuat nandi semakin bingung. Dengan berat hati, ia menuruti apa yang diucapkan oleh Ayahnya dengan tidak keluar malam dan tetap berada di rumah. Walaupun demikian, ia tidak dapat konsentrasi belajar. Pikirannya selalu menerawang ke tempat biasa ia nongkrong. Ia merasa bagaikan di penjara. Sebab jika berada di rumah, ia tidak bisa ngerokok dengan bebas karena ia belum diperbolehkan ngerokok. Di rumah pun yang dilakukannya hanya menonton TV, bukannya belajar atau membaca buku.
Setelah melewati Ebtanas, dan usai perpisahan kelas, pada suatu malam ayahnya bertanya padanya
“Ndi, kamu mau ngelanjutin sekolah kemana?”
“kalo Nandi sih pengennya masuk SMU Yah” ujarnya menjawab pertanyaan Ayahnya.
“Mending kamu masuk STM saja. Kamu bisa langsung kerja, kalau masuk SMU kan harus kuliah lagi, belum tentu ada biayanya nanti.” Usul Ayahnya kepada Nandi. Mendengar hal tersebut ia tidak bisa berkata apa-apa. Didalam hati kecilnya ingin sekali ia menolak usul ayahnya dan bersikeras agar keinginannya bersekolah di SMU terpenuhi. Namun, ia tidak ingin ayahnya tersinggung.
Hingga pada suatu malam, di tengah beban pikirannya yang banyak. ketika sedang nongkrong, datanglah seorang pemuda yang belum lama dikenalnya ikut nongkrong. Pemuda itu sangat baik. Dia mentraktir Nandi dan teman-temannya minum kopi dan membelikan satu bungkus rokok. Pemuda itu juga menawarkan beberapa butir pil beserta rokok yang bentuknya aneh dan sepertinya rokok tersebut tidak dijual di warung-warung rokok.
“Hei kalian mo ini ngga?. Kalo make ini, semua masalah yang elo punya pasti hilang deh”, ucap pemuda itu. Nandi yang merasa mempunyai banyak masalah, baik masalah dengan Susan, masalah dengan Ayahnya, tanpa pikir panjang langsung mengambil beberapa butir pil dan memakannya. Kemudian ia menghisap rokok aneh yang pemuda itu tawarkan. Nandi merasakan suatu yang aneh setelah mencoba yang ditawarkan pemuda itu. Ia merasa semua beban masalah yang ia miliki terasa hilang. Ia mulai menyukai barang-barang yang diberikan oleh pemuda itu begitu juga teman-temanya yang lain.
Akhirnya Nandi melanjutkan sekolah di STM. Ia berusaha beradaptasi dengan teman-temannya yang lain, walaupun kadangkala ia merasa tidak betah masuk STM. Salah satu penyebabnya adalah STM tidak ada ceweknya dan biasanya senang berkelahi. Sampai suatu hari setelah pulang sekolah, ia dicegat oleh segerombolan anak sekolah yang tidak dikenalnya. Mereka merampas topi dan sejumlah uang yang ada disakunya. Ia merasa jengkel, ingin melawan tapi tidak berani karena mereka terlalu banyak.
Malam harinya dia bercerita kepada teman-temannya tentang kejadian yang telah dialaminya. Seperti biasa kalau ada masalah ia selalu mengadu dan meminta sesuatu kepada pemuda yang sering memberikan barang-barang aneh. Namun kali itu, pemuda itu tidak bisa memberikannya. Ia mengatakan stoknya telah habis sedangkan ia mengaku belum punya duit untuk membelinya. Dengan terpaksa Nandi memberikan sejumlah uang yang seharusnya dia bayarkan untuk keperluan sekolah. Hingga suatu ketika, ia mendapatkan surat teguran karena menunggak bayaran selama dua bulan. Ia sangat kebingungan sekali kalo hal tersebut sampai diketahui oleh kedua orang tuanya. Hingga ia menemukan suatu cara yaitu dengan bagaimanapun juga ia harus bisa mengganti uang bayaran yang telah dipergunakannya.
Sampai suatu hari mereka merasa kehilangan pemuda itu, karena sudah beberapa hari pemuda itu tidak nongkrong. Ternyata, penyebab tidak nongkrongnya pemuda itu dikarenakan pemuda itu adalah seorang pemakai dan pengedar obat-obatan terlarang serta ganja. Aku dan teman-teman sempat kaget, ternyata semua yang diberikan oleh pemuda itu adalah narkoba. Kendati demikian, hal tersebut bukannya membuat kami takut atau jera, malah menjadikan kami semakin jauh terjerumus kedalam dunia hitam. Bahkan tidak sedikit dari teman-temanku, termasuk aku yang menggeluti narkoba menjadi ajang bisnis karena dapat memperoleh uang banyak.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>